Subscribe to Syndicate

You are here

Penghijauan Hutan Melalui Gerakan Menanaman Kopi di Pangalengan

hutan
Kopi selalu memberikan daya tarik tersendiri bagi penikmatnya, baik itu mulai dari cita rasa, aroma serta kisah yang muncul dibelakang hadirnya kopi. Tanpa disadari secangkir kopi yang tersaji menyimpan sejuta rahasia kenikmatan dan cerita yang selalu menarik untuk diperdengarkan. Di Indonesia banyak ditemui daerah penghasil kopi terbaik, dengan kultur tanah yang cukup bagus memberikan hasil kopi berkualitas. Kopi Indonesia telah banyak dikenal di berbagai Negara dan termasuk jenis kopi special (spesialti kopi) di dunia, sebut saja Kopi Gayo dari Aceh, Kopi Lampung, Kopi Toraja, Kopi Flores maupun kopi Bali yang selalu meramaikan perdagangan kopi di pasar global. Namun diantara spesialti kopi tersebut masih ada kopi spesial seperti kopi Arabika Preanger yang dipetik dari perkebunan di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Kecamatan Pangalengan terletak di sebelah selatan Kota Bandung, terkenal akan beberapa objek wisata, seperti waduk Situ Cileunca, perkebunan teh dan Kolam pemandian air panas Cibolang. Kecamatan yang terletak di ketinggian 1400 M dpl (diatas permukaan laut) ini memberikan kesan hawa dingin serta udara pegunungan yang segar, sehingga banyak orang memilih daerah ini untuk berekreasi. Namun di balik itu kecamatan ini juga terkenal dengan sektor pertanian dan peternakan, sehingga tak jarang jika sebagian besar penduduk di daerah ini bermata pencaharian sebagai petani sayur dan peternak sapi.

Pangalengan merupakan salah satu daerah di pinggiran kabupaten Bandung dengan jumlah penduduk sekitar 130.000 jiwa. Kultur Sunda masih sangat kental di daerah ini, dibuktikan dengan penduduk yang masih banyak menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa utama dibanding dengan bahasa Indonesia.

Di Pangalengan, kultur sosial dan hubungan masyarakat masih terjalin secara harmonis, suasana kekeluargaan dan keakraban dalam masyarakat masih sangat kental. Daerah Pangalengan yang sebagian besar lahannya merupakan lahan berbukit dan hutan kerap kali menjadi tumpuan penduduk untuk bermatapencaharian. Di Kecamatan ini terbentang hutan seluas 25.000 Ha mulai dari Pangalengan hingga Kabupaten Garut. Wilayah hutan seluas itu, saat ini dikelola langsung dibawah Dinas Perhutani Kabupaten Bandung.

Ada sedikit cerita menarik mengenai hutan di Pangalengan. Sebelum tahun 1998 banyak sekali terjadi perambahan hutan oleh penduduk, memanfaatkan kayu untuk dijual. Baik kayu pinus, sengon maupun mahoni yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi sebagai sasaran perambahan. Tidak tanggung tanggung hampir seluruh hutan milik Perhutani dibabat habis, sehingga kondisi hutan tersebut dinyatakan kritis.

Deforestasi hutan dan degradasi tanah menjadi masalah serius di Pangalengan. System air tanah yang dihasilkan hutan terganggu, akibatnya di tahun ini kualitas air dan udara di daerah ini tidak terlalu baik.

Di tahun yang sama ketika deforestasi hutan marak terjadi, pemerintah maupun Perhutani tidak dapat berbuat banyak sehingga masalah hutan ini membawa dampak buruk bagi kehidupan masyarakat di Pengalengan. Fakta menyebutkan tingkat perambahan hutan yang tinggi di Pengalengan disebabkan oleh rendahnya tingkat ekonomi masyarakat, sebagian penduduk pada tahun tersebut belum sepenuhnya mendapat pekerjaan yang mapan (banyak pengangguran) ditambah lagi dengan tingkat pengetahuan yang terbatas mengenai kelestarian alam, menyebabkan penebangan kayu secara illegal terus terjadi.

Perambahan hutan yang tengah terjadi akibat kebijakan pembebasan hutan pasca reformasi ternyata tidak sepenuhnya memberikan implikasi yang baik malah justru sebaliknya, hutan seakan akan dijarah dan dimanfaatkan tanpa ada pertanggungjawaban pasti oleh orang orang yang telah mempergunakan hutan tersebut. Dampak mengerikan dari peristiwa tersebut adalah rusaknya hutan, erosi tanah dan tertutupnya akses sumber air bagi warga.

Dari peristiwa perambahan hutan tersebut pemerintah melalui dinas Perhutani berinisiatif mengembalikan fungsi hutan seperti semula sebagai pencegah erosi, banjir serta penyedia air dan udara. Setelah tahun 1998 hutan kembali diperbaiki, system pengamanan untuk pengawasan hutan diperketat oleh dinas Perhutani, warga dan masyarakat tidak diperkenankan secara bebas untuk mengakses pohon di hutan.

Mulai dari tahun ini (1998) sebuah inisiatif dibawa dan dikembangkan oleh Bp. Iyus Supriatna, atau akrab dipanggil pak Iyus ini adalah pria asal Bandung yang memberikan peran atas rehabilitasi dan penghijauan hutan melalui gerakan penanaman kopi di Pangalengan. Kopi menjadi tanaman pilihan yang hendak dikembangkan di hutan Pangalengan, karena memiliki nilai ekonomis yang bermanfaat bagi warga serta membantu mengembalikan hutan yang rusak karena penjarahan.

Namun kondisi kopi pada tahun itu tidak sebaik sekarang, hanya ada beberapa orang saja yang bersedia menanam kopi di areal Perhutani. Warga biasanya sembunyi sembunyi untuk menanam kopi di lahan hutan serta harus berani menghadapi resiko ditangkap oleh pihak keamanan hutan jika mereka terbukti menanam kopi di daerah hutan. Hal tersebut yang kemudian menyebabkan warga tidak begitu tertarik menanam kopi. Namun semangat pak Iyus menjadi suri tauladan bagi warga masyarakat untuk tetap menanam kopi di Pangalengan.


Kopi Pangalengan dan Hasilnya


Setelah munculnya kasus perambahan hutan di Pangalengan, kemudian muncul dengan inisiatif penanaman kopi serta tanaman lain seperti Eucaliptus maupun mahoni. Namun tidak secara langsung inisiatif tersebut disambut baik oleh Perhutani sebagai pemilik hak atas hutan. Perhutani menilai inisiatif tersebut belum memberikan sebuah solusi bagi hutan yang telah rusak.

Akan tetapi setelah kurang lebih 3 tahun, kopi kopi yang ditanam oleh penduduk secara sembunyi sembunyi tersebut memberikan hasil (meski belum maksimal), namun setidaknya memberikan gambaran positif atas perbaikan hutan. Secara langsung kopi yang telah ditanam tersebut mulai dapat dipanen. “Hasil panen yang lumayan,” kata salah seorang petani kopi yang sebelumnya rela ditangkap petugas keamanan hutan.

Kopi yang ditanam secara bersusah payah tersebut akhirnya memberikan pendapatan yang cukup bagus bagi petani. Ketika melihat hasil kopi yang diperoleh petani, pihak Perhutani mulai tertarik dengan kopi yang ditanam oleh petani. Perhutani melihat bahwa dengan kopi, areal hutan yang dulunya tandus kini menjadi hijau kembali. Hingga pada akhirnya Kesuksesan petani kopi ternyata memikat hati Perhutani untuk melakukan kontrak kerjasama. Antara lain: pihak Perhutani bersedia memberikan ijin bagi warga yang ingin menanam kopi di areal hutan tanpa ada pungutan biaya ijin serta memberikan legalisasi untuk penggunaan hak guna tanah sebagai areal perkebunan kopi.

Namun Perhutani juga menetapkan aturan bagi warga, bahwa pohon kayu putih maupun pohon lain yang ada di dalam hutan tidak diperbolehkan untuk ditebang dan diambil kayunya. Dalam hal ini petani hanya di ijinkan untuk memetik dan mengambil biji kopi yang telah mereka tanam. Sebagai kontribusinya atas pembebasan lahan, Perhutani meminta share hasil panen kopi sebesar 15% dalam setiap panennya.

Meski di awal awal tahun panen, petani belum secara signifikan merasakan adanya perbaikan ekonomi dari hasil kopi, tetapi setidaknya memberi peluang untuk terus mengembangkan usaha kopi rakyat di daerah Pangalengan. Secara optimis usaha pengembangan kopi akan terus dapat maju mengingat sudah adanya keterbukaan dan kesepakatan antara petani kopi dan Perhutani. Hal ini menjadi catatan tersendiri bagi awal kesuksesan kopi Pangalengan.

Kopi yang ditanam oleh petani banyak memberikan dampak positif bagi kelangsungan budidaya kopi tersebut dan memperbaiki hubungan dengan pemerintah. Ketika kopi memberikan hasil bagi perbaikan hutan dan memicu adanya peningkatan ekonomi ditingkat petani, pemerintah kembali memberikan perhatian bagi kelangsungan petani kopi di Pengalengan dengan memberikan beberapa bantuan seperti: bibit kopi kualitas, mesin pemerah kopi maupun pinjaman modal yang disalurkan melalui perbankan. Dengan bantuan yang disalurkan pemerintah tersebut diharapkan petani kopi di Pangalengan dapat terus berkembang.

Di Pangalengan, usaha kopi rakyat menggunakan 4000 Ha dari total 25.000 Ha yang tersedia di Jawa Barat. Dengan areal tanam seluas 4000 Ha tersebut dibagi menjadi beberapa LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), yang merupakan lembaga bentukan Perhutani. LMDH ini nantinya yang akan mengupayakan dan bertanggung jawab atas wilayah tanam kopi. Sedangkan setiap LMDH ini dibagi kembali menjadi 12 atau 15 KTH (Kelompok Tani Hutan). KTH ini lah yang akan mengelola setiap petani kopi, biasanya setiap KTH terdiri dari 30 – 50 petani.

Hingga saat ini kurang lebih sudah 14 tahun kopi Pengalengan hadir dalam industri kopi nasional. Kopi yang sebelumnya tidak ada di daerah ini, kini menjadi salah satu komoditi andalan di Pangalengan. Dengan jumlah total petani yang terlibat di dalamnya sebanyak 8000 orang, terdiri dari 6000 petani laki laki dan 2000 petani perempuan dengan jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor kopi mencapai 20.000 orang.

Ditambah dengan hasil produksi petani yang mencapai 4000 ton green bean kopi per tahun. Menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku bisnis kopi untuk menanamkan modal di Pangalengan dengan mendirikan pabrik pengolahan kopi. Hingga saat ini di kecamatan Pangalengan telah berdiri 5 perusahaan kopi skala nasional. Hal tersebut cukup memberikan perubahan sosial bagi masyarakat di Pangalengan. Secara langsung maupun tidak langsung kehadiran pabrik kopi berpotensi untuk mengurangi angka pengangguran di Pangalengan, menyediakan lapangan pekerjaan serta membantu meningkatkan pendapatan ekonomi warga.

Hubungan sebab akibat dari kehadiran kopi cukup memberikan arti terhadap dinamika kehidupan sosial ekonomi masyarakat pedesaan, mengenai prinsip dari ketidakadaan menjadi ada dan kekurangan menjadi berkecukupan. Secara makro, multiplier efek yang diberikan oleh komoditi kopi di Pangalengan cukup luas, mulai dari hutan yang gundul menjadi hutan yang kaya akan tanaman dan telah terjadi rehabilitasi.

Dari tidak adanya kopi, kini kopi menjadi ada dan menjadi daya tarik, Dari masyarakat dengan kemampuan ekonomi rendah (banyak pengangguran) menjadi masyarakat madani dengan tingkat kemampuan ekonomi yang merata, dari sempitnya lapangan kerja yang berimplikasi pada perambahan hutan oleh masyarakat kini menjadi daerah yang aktif dengan kegiatan bisnis dan terhindar dari tindakan perusakan hutan.

Kopi Preanger cukup banyak memberikan nilai tambah bagi kehidupan di Pangalengan, mulai dari peningkatan pendapatan petani, membuka lapangan kerja sebagai buruh maupun masyarakat yang mengambil peluang sebagai pekerja sektor non formal di daerah ini, seperti sebagai tukang ojek, penjual nasi serta membuka jasa penginapan. Karena hingga saat ini kondisi Pangalengan jauh berbeda dengan Pangalengan 14 tahun yang lalu, dimana sebelumnya Kecamatan di pinggiran Bandung ini masih tampak sepi, kini semakin ramai dengan aktivitas bisnis. Dapat dikatakan roda perekonomoian di daerah ini berangsur mulai membaik. Terlebih lagi yang lebih menggembirakan ada beberapa fasilitas publik mulai dari sekolah dasar sampai dengan tingkat menengah atas telah tersedia, begitu juga dengan fasilitas kesehatan maupun ketersediaan air bersih telah dinikmati oleh penduduk.

Kopi di Pangalengan yang semula dipandang sebelah mata, kini mampu memberikan banyak potensi bagi masyarakat di Pangalengan. Jika sebelumnya penduduk di daerah ini hanya bekerja sebagai petani sayur dan peternak sapi, kini mereka sudah dapat bekerja sebagai petani kopi, pekerja kopi, pedagang kopi bahkan ada pula yang bekerja sebagai buruh di pabrik pengolahan kopi. Memang membanggakan jika melihat prestasi kopi Preanger ini, di satu sisi kita lihat adanya peningkatan pendapatan petani, di sisi lain kita lihat adanya proses perbaikan hutan. Dari sinilah dapat kita amati mengenai pembangunan sektoral yang merata, bahwa inisiatif kopi di Pangalengan ini dapat dijadikan acuan di daerah lain di Indonesia untuk mengembangkan potensi sumber daya alam di masing-masing wilayah.

Berkembangnya kopi Preanger di tengah kancah perkopian Indonesia, sedikit banyak telah memperkaya koleksi kopi Indonesia. Kenikmatan aroma dan cita rasa unik kopi Preanger memberikan bukti bahwa Indonesia memang dikenal sebagai negara yang kaya akan Sumber daya alam sehingga mampu menghasilkan kopi dengan kualitas terbaik. Seperti layaknya kopi spesialti lain, kopi Preanger ini tidak hanya memberikan kenikmatan rasa bagi konsumen namun juga memberikan nilai keberpihakan bagi kelestarian alam serta peduli terhadap kehidupan petani dan masyarakat.

Features: